Cari Blog Ini

Memuat...

Follow Me

Selasa, 14 Desember 2010

ULAMA NUSANTARA KH.Abbas Abdul Jamil

Seorang ulama berpengaruh dari Jawa Barat pada paruh pertama abad 20. Ia juga seorang pejuang yang pemberani melawan tentara Sekutu dan NICA. Mursyid Tarekat Tijaniyah dan Syathariyah yang kharismatik dengan pengaruhnya yang sangat besar terhadap jamaahnya. Pengasuh Pesantren Buntet Cirebon, salah satu pesantren besar di Indonesia hingga kini. Ulama yang disegani oleh para Jawara karena merupakan pendekar pencak silat yang tangguh dan memiliki ilmu kanuragan (kesaktian), serta ilmu hikmah tingkat tinggi. Selain sufi, beliau juga ahli dalam bidang fikih dan usul fikih yang diakui oleh para ulama.
KH. Abbas Abdul Jamil bernama asli Abbas. Lahir di Desa Pekalangan, Cirebon, pada Jum’at 24 Dzul Hijjah 1300 H/1879 M. Bila dihitung, 24 Dzul Hijjah 1300 H sama dengan 27 Oktober 1879 M. Sebagai putera sulung dari KH. Abdul Jamil, pengasuh Pondok Pesantren Buntet, Astanajapura, Cirebon, putera KH. Muta’ad pengasuh Pesantren Buntet pada masa sebelumnya. Kakek Abbas, KH. Muta’ad, sendiri adalah cucu menantu dari Syaikh Muqayyim (Mbah Muqayyim) pendiri Pesantren Buntet (1758), yang berhasil membangun pesantren tersebut setelah mengalami masa vakum sepeninggalan pendirinya.
Sebagai putera kyai pesantren, Abbas mendapat pendidikan agama sejak kecil dari ayahandanya, demikian pula adik-adiknya seperti Anas dan Muhammad Ahyat. Kemudian ia nyantri di beberapa pesantren; Pesantren Sukanasantri, Plered, Cirebon, di bawah asuhan Kyai Nasuha; Pesantren Jatisari, Cirebon, asuhan KH. Hasan; pesantren di Tegal, Jawa Tengah, pimpinan KH. Ubaidillah; Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Di pesantren terakhir ini, selain memperdalam ilmu agama, ia meluaskan wawasan dan pengetahuannya, serta memupuk semangat nasionalismenya. Di pesantren ini, ia bersahabat dengan pemuda sebaya; Abdul Wahab Hasbullah dan Bisri Syansuri, dan yang lebih tua darinya; Abdul Manaf (Abdul Karim).
Selesai belajar di Tebuireng Abbas menunaikan ibadah haji dan melanjutkan belajar di tanah suci Makkah selama beberapa tahun. Di antara para gurunya di halaqah Masjidil Haram adalah Syaikh Mahfud bin Abdullah at-Termasi, Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Hasan Muhammad  al-Massyat, Syaikh Abbas al-Maliki, Syaikh Muhammad Amin al-Quthbi, dan selainnya. Di antara sahabatnya di Makkah adalah KH. Bakir (Yogyakarta), KH. Wahab Hasbullah, KH. Abdillah (Surabaya), KH. Bisri Syansuri dan beberapa yang lain. Di Makkah KH. Abbas Abdul Jamil sempat mengajar para juniornya, seperti KH. Kholil (Balerante, Palimanan, Cirebon), dan KH. Sulaiman (Babakan, Ciwaringin, Cirebon).
Sepulangnya ke tanah air, KH. Abbas membantu ayahhandanya mengasuh Pesantren Buntet. Setelah ayahnya, KH. Abdul Jamil wafat (1919), KH. Abbas menjadi Pengasuh Utama pesantren dibantu saudara-saudaranya dari dzuriyyah KH. Muta’ad. Di bawah kepemimpinannya Pesantren Buntet terus berkembang. Di samping pengajian model tradisional, seperti bandongan, sorogan, dan weton, juga dikembangkan pendidikan model klasikal. KH. Abbas mendirikan Madrasah Abnaul Wathan (1928) agar masyarakat tidak tertarik menyekolahkan anaknya di sekolah Belanda, dan mengirimkannya ke pesantren. Madrasah dipimpin langsung olehnya, sebagai Kepala Madrasah. Sedangkan KH. Imam menjadi Wakil Kepala Madrasah dan pelaksana hariannya.  Pesantren Buntet dan madrasahnya pada waktu itu, selain menyelenggarakan pendidikan ilmu-ilmu keislaman sebagaimana umumnya, juga mempunyai program andalan di bidang ‘Ulum al-Qur`an, meliputi tahfizh dan ilmu qira`at, termasuk qira`at sab’ah. Untuk mempersiapkan program ini Kyai Abbas secara khusus mempelajari ilmu qira`at kepada KH. Tubagus Ma’mum di Banten. Di samping itu pesantren dan madrasah ini mempunyai andalan di bidang .... yang masih cukup untuk pesantren saat itu. Pada tahun 1938, nama Madrasah Abnaul Wathan diubah menjadi Madrasah Islamiyah Syafi’iyah, dan pada masa berikutnya berubah menjadi Madrasah Wathaniyah Ibtidaiyah. Sedangkan kurikulum yang dipakai sejak awal hampir sama dengan Madrasah Salafiyah Pesantren Tebuireng, Jombang. Sepeninggalan KH. Abbas, madrasah di Pesantren Buntet semakin berkembang dalam dua jalur. Pertama, madrasah kulikuler mulai dari Raudhatul Athfal (RA Al-Anwar dan RA Al-Ikhlas), MI Putra, MI Putri, MTs Putra, MTs Putri, MA Putra, dan MA Putri. Kedua, madrasah khusus, seperti Taman Pendidikan Al-Qur`an (TPA Al-Anwar dan TPA Al-Ikhlas), Madrasah Diniyah Awwaliyah, Madrasah Diniyah Wustha, dan Madrasah Diniyah ‘Ulya.
Dalam kehidupan berkeluarga, KH. Abbas Abdul Jamil menikah dua kali. Pertama menikah Nyai Khafidhah yang menurunkan KH. Mustahdi Abbas, KH. Abdur Razaq, KH. Mustamid Abbas, dan Nyai Hj. Sumaryam. Kedua menikah dengan Nyai I’anah yang melahirkan 6 (enam) putra putri, yaitu KH. Abdullah Abbas, Ny. Qismatul Maula, Ny. Sukaenah, Ny. Maimunah, KH. Nahduddin Abbas, dan Ny. Munawarah. Semuanya menjadi penerus perjuangan beliau. Demikian pula suami dan istri mereka seperti KH. Khawi.
Selain menjadi pengasuh pesantren, KH. Abbas juga merupakan Mursyid Tarekat Syathariyah dan Tijaniyah. Tarekat Syathariyah sudah ada sejak zaman Mbah Muqayyim yang mendapatkannya dari Syaikh Muhyiddin al-Jawi, putra Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya. Tarekat ini berkembang di Pesantren Buntet sampai kepada KH. Abbas dan dilanjutkan KH. Abdullah Abbas. Sedangkan tarekat Tijaniyah pertama kali  disebarkan oleh KH. Anas, adik dari KH. Abbas, (1928) yang mendapatkan ijazah di Madinah. Kemudian KH. Abbas mengikutinya sampai diangkat menjadi Muqaddam (setingkat Mursyid untuk tarekat lain) dari Syaikh Ali ath-Thayyib dan Syaikh Alfa Hasyim. Sebagai Mursyid dan Muqaddam tarekat, beliau mempunyai pengaruh yang besar di masyarakat.
Beliau juga menjadi aktifis Nahdlatul Ulama (NU) sejak awal organisasi ini didirikan (16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M. Pesantren Buntet yang dipimpinnya pernah menjadi tempat Muktamar NU ke 6 (12 Rabi’uts Tsani 1350/27 Agustus 1931 M). Beliau aktif dalam pembentukan NU di daerah Cirebon dan Jawa Barat, serta menjadi Syuriyahnya bersama KH. Mas Abdurrahman (Banten), KH. Ruhiyat (Tasikmalaya), dan lain-lain.
Dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, KH. Abbas mengambil peran secara aktif di front terdepan. Pesantren Buntet menjadi markas Hizbullah dan Sabilillah untuk wilayah Cirebon. Sebelumnya beliau mengikuti latihan militer di Ciparung (antara Bogor dan Bekasi) pada akhir penjajahan Jepang (Desember 1944). Beliau juga ikut ambil bagian dalam Musyawarah Ulama Se-Jawa Madura (21-22 Oktober 1945) di Surabaya di bawah pimpinan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari yang melahirkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara. Karena itu, ketika terjadi perang di Surabaya melawan Sekutu dan NICA, KH. Abbas ikut bergerak di front terdepan, meski sudah berusia senja.
Sebagai ulama pejuang yang terjun langsung di medan pertempuran, KH. Abbas Abdul Jamil sangat kecewa saat delegasi Indonesia menandatangani Perjanjian Linggarjati dengan delegasi Belanda (15 Nopember 1946), yang menyepakati bahwa wilayah Republik Indonesia hanya Jawa dan Sumatera.
Beliau sakit dan akhirnya wafat pada Ahad 1 Rab’iul Awal 1365 H/Desember 1946 M. Jenazahnya dimakamkan di komplek makam keluarga Pesantren Buntet Cirebon. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh putra-putrinya, para santrinya, dan Mursyid serta Muqaddam yang telah dibaiat olehnya, di antaranya adalah Prof. KH. Ibrahin Husein, KH. Mustahdi Abbas, KH, Mustamid Abbas, KH. Abdullah Abbas, KH. Nahduddin Abbas, KH. Ahyat, KH. Khawi, KH. Badruzzaman, KH. Junaidi Anas, KH. Khalil, KH. Sulaiman, KH. Usman Damiri, KH. Muhammad Rois, KH. Sholeh, KH. Muhammad Basamalah dan selainnkya.
Referensi:
Ensiklopedi Islam Indonesia I, Djembatan, Jakarta, 2002.
Saifullah Ma’sum, Kharisma Ulama, Mizan, Bandung, 1997
Mastuki dan Ishom El-Salim (ed.), Intelektualisme Pesantren II, Diva Pustaka, Jakarta, 2003.
Soelaiman Fadeli dan M. Subhan, Antologi NU Jilid II, Khalista-LTN NU, Surabaya, 2010.
Masykuri, Abd. Aziz, 99 Kyai Pondok Pesantren Nusantara, Kutub, Yogyakarta, 2006.
Direktori Pondok Pesantren, Dirjen Bimbingan Islam Depag, Jakarta, 2000.
Bibit Suprapto, HM., Ensiklopedi Ulama Nusantara, Gelegar Media Indonesia, Jakarta, 2006.
Al-Kisah, No. 17/Th. VII/24 Agustus – 6 September 2009.
Al-Kisah, No. 19/Th. V/10 – 23 September 2007.
Al-Kisah, No. 22/Th. VIII/1- 14 Nopember 2010.

Dikutip dari Semesta Sabda

2 komentar:

  1. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
      sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
      kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
      Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
      1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
      melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
      dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
      saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
      kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
      penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
      dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
      minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
      buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
      Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
      sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
      Atau Kunjungi Situs KYAI www.pesugihan-uang-gaib.blogspot.co.id/ agar di
      berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu
      hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik, jika ingin
      seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

      Hapus

Give Your Comment

Amazon MP3 Clips