Cari Blog Ini

Memuat...

Follow Me

Sabtu, 09 November 2013

Mimpi Melihat Nabi Muhammad

Mimpi Melihat Nabi Muhammad


Orang yang melihatku dalam mimpi sesungguhnya benar-benar telah melihatku. Sebab, setan tak mampu menyerupaiku.  Demikian sabda populer Nabi  yang diriwayatkan oleh para imam hadis, di antaranya Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah.  Jika yang bermimpi melihat Nabi adalah para sahabat maka dipastikan mereka benar-benar melihat Nabi. Mereka hidup sezaman dengan Nabi dan tentu saja mengenali betul ciri-ciri fisik Nabi. Begitu juga mungkin dengan tabiin, generasi yang hidup semasa dengan sahabat tapi tak sempat melihat Nabi. Mimpi mereka bisa diverifikasikan kepada para sahabat. Yang sulit diverifikasi adalah jika yang bermimpi itu generasi setelah tabiin, generasi sesudahnya, generasi berikutnya, terus, terus, terus sampai generasi kita, generasi sesudah kita, terus, dan seterusnya. Generasi yang tak punya referensi empiris tentang sosok Nabi.
Satu-satunya referensi tentang sosok Nabi bagi generasi tersebut adalah riwayat-riwayat yang mendeskripsikannya. Dalam beberapa riwayat (di antaranya riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, dan Imam Ahmad), Nabi Muhammad itu: matanya belo dengan hitam mata yang pekat dan putih mata yang bersih, bulu mata yang lentik, dan tampak seperti selalu memakai celak, padahal tidak; berjenggot lebat; memiliki dada yang bidang dan bahu yang tegap; berkulit bersih; lengan dan kakinya kokoh; postur tubuhnya proporsional, tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek; tegap jika berjalan; jika ada yang memanggil, ia akan menengok dengan menghadapkan seluruh tubuhnya. Dan lain-lain. Pendek kata: gagah dan tampan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, seorang sahabat bernama Jabir ibn Samurah menggambarkan pesona Nabi, “Malam itu begitu cerah. Kulihat Rasulullah menyelimuti diri dengan jubah merah. Lalu, kulihat bulan. Menurutku, Rasulullah lebih menawan.”
Hanya sebatas deskripsi seperti itulah kita mengetahui sosok Nabi. Karenanya, para penafsir hadis berbeda pendapat tentang mimpi-seseorang melihat Nabi. Sebagian mengatakan, jika seseorang bermimpi melihat Nabi maka ia benar-benar melihat sosok Nabi, seperti apa pun ciri-ciri fisik dalam mimpi itu, baik sesuai dengan dekripsi dalam hadis maupun sama sekali berbeda. Jadi, meski Anda sama sekali tidak tahu ciri-ciri fisik Nabi, jika Anda bermimpi melihat Nabi maka itulah sosok Nabi. Sebab, secara tersurat, hadis mimpi-melihat-Nabi memang menyatakan demikian. Dan mimpi Anda tersebut benar, anugerah dari Allah, bukan bunga tidur, bukan gambaran-gambaran buatan setan.
Sementara, sahabat Ibnu Abbas dan diikuti oleh pakar tafsir mimpi dari generasi tabiin, Muhammad ibn Sirin (w. 110 H), lebih hati-hati. Menurut mereka, seseorang dianggap benar-benar melihat Nabi dalam mimpi hanya jika sosok dalam mimpi itu memiliki ciri-ciri fisik Nabi. Jika ada orang yang menceritakan mimpinya melihat Nabi, Ibnu Abbas dan Ibn Sirin akan meminta orang itu menjelaskan tanda khas sosok tersebut. Jika sesuai dengan karakter fisik Nabi, berarti orang itu benar-benar melihat Nabi. Jika tidak, Ibnu Abbas dan Ibn Sirin akan berkata, “Kau tidak melihatnya.” Mimpi itu hanya sekadar mimpi.
Jadi, sabda Nabi di atas tak bermakna mutlak.
Ada juga yang berpendapat, konteks hadis tentang melihat Nabi di atas adalah untuk sahabat yang lebih dahulu mengimani Nabi sebelum bertemu dengannya atau melihatnya.
Masih banyak pendapat dan penafsiran lain yang bisa ditelaah di kitab-kitab syarah hadis. Tapi, secara umum, pendapat-pendapat tersebut mengarah pada dua kesimpulan: pertama, mimpi melihat Nabi adalah benar-benar melihat sosok Nabi. Kedua, mimpi melihat Nabi adalah benar melihat sosok Nabi—dengan syarat dan ketentuan, yaitu di antaranya kesesuaian sosok dalam mimpi itu dengan karakteristik Nabi, sebagaimana pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Sirin.
Pada kesimpulan kedua, ada celah bahwa sosok dalam mimpi Anda belum tentu Nabi, meski Anda merasa sosok tersebut adalah Nabi—apalagi jika Anda sama sekali tidak mengetahui tanda-tanda khas fisik Nabi. Lalu, siapa sosok itu? Setan? Mungkin saja. Tapi, bukankah sudah jelas setan tidak mampu menyerupai Nabi? Benar.  Tapi, adalah mungkin setan bertingkah iseng, mengaku-ngaku Nabi dalam mimpi, memanfaatkan ketidaktahuan Anda terhadap karakteristik fisik Nabi. Bukankah yang Nabi katakan adalah setan tak bisa menyerupainya?! Nabi tidak mengatakan setan tak bisa mengaku-ngaku menjadi dirinya.
Anda bisa katakan setan tak mampu menyerupai Nabi jika Anda mengetahui rupa Nabi terlebih dahulu. Jika Anda tak mengetahuinya, bagaimana Anda memastikan bahwa sosok dalam mimpi Anda itu Nabi atau justru setan yang mengaku-ngakuNabi?!
Wallahu a’lam.
Dikutip dari Blog sahabat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Give Your Comment

Amazon MP3 Clips