Cari Blog Ini

Follow Me

Minggu, 11 September 2016

Sejarah Lengkap Manaqib Walisongo di Nusantara

Sejarah Lengkap Manaqib Walisongo di Nusantara

Muqoddimah

Walisongo adalah sebuah anugrah Allah SWT yang perlu di syukuri, diteladani dan diikuti oleh kita selaku umat Islam di Indonesia khususnya. Berkat jasa beliaulah kita mengenal Islam secara koprehensif, aktual dan tetap membaur berkolaborasi dengan budaya yang output-nya menceriminkan Islam yang damai, moderat, anggun dan penuh keberadaban. Sama seperti pola dakwah Rasulullah SAW di awal penyebaran Islam di semenanjung Arabia. Beliau SAW mengutamakan pembenahan ahlaq, dakwah persuasif dan diskusi, berdakwah dengan hati dan segenap jiwa mengajak kaum Kafir & Munafik ke jalan tauhid dan indahnya Islam, tanpa ada mencela, memaksakan keislaman dengan pedang, bahkan beliaulah SAW insan yang paling sabar sejagat raya ini. Di lanjutkan dakwah para kulafaur rasyidin, sahabat, tabiit tabiin, para ulama mazahab, para pengikut mazhab sampai walisongo tentunya sampai menyebarkan agama risalah keislaman di Nusantara.

Saya pun heran ada sekelompok saudara seiman, yang meragukan peranan dan keotentikan peran walisongo, apakah dasar mereka ya? Apakah mereka tidak pernah ziarah, apakah mereka tidak punya orangtua yang pernah mengenyam pendidikan “nyantri”, apakah mereka lebih percaya sumber “Internet” sebagai bahan mengkaji islam dibandingkan “nyantri”?, wallahu’alam.

Yang jelas beruntunglah kami semua yang berfirqoh Ahlussunnah wal Jamaah yang selasar dengan fitrah islam yang rohmatan lil alamiin, yang sejuk mengajak dengan mengutamakan adab dan ahlak, yang lebih “lentur” dalam mengamalkan syariat, yang tetap mengedepankan senyum dari pada nyinyir-ketus-sakklek dan keras mengajarkan dan mempraktekkan Islam.

Penulis akan coba bedah babad – manaqib lengkap walisongo yang diambil dari sumber yang aktual, ada juga beberapa media pendukung dengan video dari Aswaja Tube yang menguatkan persepsi dan pemahaman keotentikan dakwah walisongo tersebut. Selain itu saya lengkapi juga dengan peta walisongo, supaya lebih mantap.

Kekinian, dakwah walisongo tersebut diadopsi oleh 2 wadah ummat Islam di Indonesia yang terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah.

Baik NU dan Muhammadiyah adalah saudara kandung yang sama dalam mengamalkan keilmuan, kedua pendirinya, silsilah kedua ulama tersebut, maka beliau berdua akan bertemu pada Syeikh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

KH Ahmad Dahlan dari Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) anak Maulana Ishak dan KH Hasyim Asy'arie dari Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang, Guru Sunan Kalijaga) anak Raden Rahmatullah (Sunan Ampel).

Adapun perbedaan dari kedua ormas tersebut sebenarnya jika diurutkan bersambung pada perbedaan antara Kelompok Sunan Giri (Giri Kedaton) dan Kelompok Sunan Kalijaga, bersama guru beliau Sunan Bonang (Kesultanan Demak), dalam penyebaran agama Islam.

Giri Kedaton menyebarkan sayap di kawasan pantai Jawa dan bahkan kawasan Timur Nusantara. maka tidak heran jika Sultan Hasanuddin (Ayam Jantan dari Timur) adalah murid dari Sunan Giri.

Sedangkan Kasultanan Demak menyebarkan kawasan pedalaman Jawa dan menggelar pemerintahan, walaupun Giri Kedaton hanya sebatas pondok pesantren akan tetapi tunduk pada Kasultanan Demak seperti hanlnya Kasunanan Cirebon, bahkan dihormati karena Raden Fatah adalah murid Sunan Ampel. bahkan, ketika Kerajaan Mataram, Giri Kedaton pun tunduk, demi persatuan umat.

ketika Perang Salib Nusantara (datangnya kolonial Eropa), upaya memecah belah bangsa tidak semudah itu dilakukan karena kuatnya persatuan dan kesatuan Iman dan Islam Umat Islam Nusantara.

Tentang da'wah, dapat dikatakan kedua madzhab sama-sama melakukan pendekatan budaya kepada masyarakat, sehingga melebur dengan baik. adapun cerita-cerita bahwa kelompok Sunan Kalijaga melakukan tindakan syirik, sebenarnya itu hanya merupakan jalan saja, bukan tujuan. akan tetapi penggunaan jalan sudah tepat sesuai zamannya dan bahkan telah merubah tujuan asal dari syirik kepada tauhid, jika kita cermati dari arsitektur tata kota kraton Jogjakrta dari tugu dampai pendopo di Bantul, yang melambangkan Keesaan Tuhan dan Kebersamaan Manusia dalam menjalani hidup.

Sedangkan kelompok Sunan Giri mengajarkan kemurnian tauhid tanpa mencampuradukkan ritual agama yang dibangun oleh masyarakat sebelum Da'wah Islam.

Kedua madzhab wali songo tersebut termanifestasikan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama yang jika diurutkan juga, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'arie pernah satu kamar di salah satu pesantren di Jawa Tengah (Semarang – KH. Shaleh Darat). dan bahkan kedua ormas (Muhammadiyah dan NU) sama-sama bersatu dalam menyusun dan manjaga bangsa Indonesia sejak lahirnya sampai sekarang walaupun dilanda arus revolusi dan reformasi serta berbagai krisis, dari kerisis politik, ekonomi, moral dan pemikiran.

Di tengah porak-porandanya bangsa Indonesia ini, masih ada Muhammadiyah dan NU serta berbagai ormas Islam lainnya seperti Persis, Al-Washliyah, Nadhatul Wathan dan lain sebagainya, bersinergi menjaga moralitas dan persatuan bangsa Indonesia.

Pak Din syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah) berbicara di Kairo, pernah menyentil adanya 'pernikahan' antara orang Muhammadiyah dan NU sehingga kedua organisasi tetap akur. bisa dicontohkan adalah Bapak Jusuf Kalla yang tenryata ibu beliau adalah bendahara 'Aisyiyah (Organisasi Otonom Muhammadiyah untuk Ibu-ibu) dan ayah beliau adalah tokoh NU, akan tetapi tetap akur walaupun pada zaman Orde Baru, bahkan sejak Orde Lama, Muhammadiyah dan NU dibenturkan perbedaan soal Qunut, Penetapan Puasa, bahkan ritual-ritual lainnya. akan tetapi berjalan harmonis dan saling menghormati dan mencintai.

~ Susunan Nama Walisongo Lengkap ~

1. Sunan Gresik

Nama asli: Syekh Maulana Malik Ibrahim
Nama julukan: Ibrahim Asmarakandi
Daerah penyebaran Islam: Gresik
Lahir :
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 (M) Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya

Wafat :
wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 822 Hijriah dan dimakamkan di Gresik.

Bersambung
©zawiyyahmahabbah@2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Give Your Comment

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.