Tampilkan postingan dengan label Kitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kitab. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juli 2019

Istirahatkan Dirimu dari Pengaturan

Ilustrasi: Istirahatkan Dirimu dari Pengaturan / Photo by Net
Al-Hikam Pasal 4: Istirahatkan Dirimu dari Pengaturan
أَرِحْ نــَفْسَـكَ مِنَ الـتَّدْبِــيْرِ، فَمَا قَامَ بِـهِ غَيْرُ كَ عَـنْكَ لاَ تَـقُمْ بِـهِ لِنَفْسِكَ

"Istirahatkan dirimu dari tadbiir (melakukan pengaturan-pengaturan)! Maka apa-apa yang selainmu (Allah) telah melakukannya untukmu, janganlah engkau (turut) mengurusinya untuk dirimu."

 Syarah
Tanpa kita sadari, banyak hal yang telah Allah atur untuk diri kita. Jaringan syaraf yang terus bekerja, paru-paru yang memompa udara, oksigen yang kita hirup dengan leluasa, rizki yang kita makan, dan banyak hal lain yang sesungguhnya telah Allah atur untuk setiap manusia. 

Maka kita tidak perlu terlalu khawatir, takut, turut serta melakukan pengaturan untuk diri kita sendiri, dan bertawakallah! Sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَ‌ىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَ‌كَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْ‌ضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya ".. – Q.S. Al-A'raaf [7]: 96

Jumat, 31 Mei 2019

Belajar Tentang Ilmu Diam

Belajar Tentang Ilmu Diam / Ilustration by Net

Rasulullah SAW bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصُّمْتُ أَفْضَلُ وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضْبَ الرَّبِّ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَ الصَّمْتُ أَفْضَلُ  وَالْجِهَادُ سَنَامُ الدِّيْنِ وَ الصَّمْتُ أَفْضَلُ


“Shalat adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama. Shadaqah dapat memadamkan murka Rabb, tetapi diam itu lebih utama. Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama. Jihad itu puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama.”

Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda:
 
الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِبَادَاتِ


“Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Ad-Dailami)

Maksud diam di sini adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun dunia, dan diam dari membalas omongan orang yang mencemooh kita.

Nah, diam yang seperti ini termasuk ibadah yang paling tinggi, sebab kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan. 

Adapun jika seseorang diam karena dia sendirian tanpa adanya orang lain yang memotivasinya untuk diam, maka diamnya bukan ibadah.

Rasulullah SAW juga bersabda :

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَ سِتْرٌ لِلْجَاهِلِ


“Diam itu adalah perasaan bagi orang ‘Alim dan selimut bagi orang bodoh.” (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz)

الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ


“Diam itu adalah akhlak yang paling utama.”

الصَّمْتُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُهُ


“Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang melakukannya.” (HR. Qadha’I, dari Anas dan Dailami, dari Ibnu ‘Umar)

Oleh karena itu, ada syair yang mengatakan:
Wahai orang yang banyak bicara tanpa guna, kekanglah mulutmu...
Sungguh kamu terlalu banyak bicara ke sana dan ke mari...
Sungguh kamu telah banyak berperan dalam keburukan...
Mulai sekarang diamlah jika kamu ingin menjadi baik....

Rasulullah SAW bersabda: 

أَفْضَلُ الْجِهَادِ اَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِيْ ذَاتِ اللهِ


“Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsu karena Allah.” (HR. Ad-Dailami)


Dikutip dari kitab Nashaihul 'Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani.

DIAM ADALAH HIKMAHNYA MA'RIFAT HAMBA

"Sesungguhnya diam itu merupakan sebuah pintu-pintu hikmah. Dan sesungguhnya diam itu tanda atas segala kebaikan." (Imam Abu Hasan Ar-Ridha dalam kitab ushul Al-Kafi).

Dan Luqman berkata kepada puteranya :

"Wahai anakku, Apabila engkau meyaqini bahwa perkataan adalah perak, maka sesungguhnya diam itu adalah emas."


Para Ikhwani dan Akhwati, 

Semoga Anda sekalian mendapat karunia dari Allah Ta'ala, berupa hikmah yang besar yaitu anugerah kema'rifatanmu agar dapat berjumpa dengan-Nya dalam rahmat dan kasih-sayang-Nya. 

Dan tanda-tanda mendapat hikmah itu adalah :
"Barangsiapa yang hatinya ikhlas karena Allah 40 pagi, maka kelihatanlah air mata hikmah itu dari qalbunya yang melalui lidahnya."
.
Ketahuilah, para ulama billah itu, tidak hanya sekedar mengenal saja, akan tetapi mereka juga mengenal akan martabat Ilahi. Dan tentu mereka itu, sudah tenggelam disamudera Ahadiah-Nya. 

Didalam tenggelam disamudara lautannya itu, pandangan mereka hanya satu yang dituju yaitu :
" Allah "
Baik dihadapannya, maupun dibelakangnya. Baik dikirinya, maupun dikanannya, atas, bawah, luar maupun didalam dirinya.

Setiap waktunya, mereka selalu bersama Allah Ta'ala, baik suka dan dukanya, baik dalam keramaian dan kesendiriannya.
.
Sungguh, tidak banyak orang yang mengetahui tentang akan kerahasiaan dirinya, walaupun ia selalu berkumpul didalam suatu keramaian.

Akan tetapi hatinya tetap hanya bersama Allah Ta'ala. Dan jiwanya telah terlepas dari segala ikatan duniawi.

Sesungguhnya para pecinta Tuhan itu, telah melepaskan pandangannya dari segala sesuatunya termasuk dirinya maupun orang banyak.

Menyendirikan diri dan diam didalam hakikat Tuhan-nya.

Dalam suatu khabar (hadits) diriwayatkan bahwa, Nabi Daud as. sedang menyendiri didalam mihrab. Dalam kesendiriannya itu, beliau terhanyut dan terbuai dalam keheningan. 

Lalu tiba-tiba Allah berfirman :

"Wahai Daud, sedang apakah engkau?"

Lalu Nabi Daud As. menjawab :

"Ya Rabbii, sesungguhnya aku menyendiri dalam kesendirianku."
Allah berfirman :

"Apa yang engkau lihat wahai Daud?"
Beliau As. menjawab :
.
"Ya Rabbii, aku pandang diriku didalam musyahadahku bahwa :
Tidak ada Daud, yang ada hanyalah aku.
Dan aku pandang lagi lebih kedalam bahwa,
Tidak ada aku, tetapi ada hanyalah Engkau ya Rabb."

Lalu Allah berfirman kepadanya :

"Wahai Daud, jika benar musyahadahmu begitu, berarti engkau telah keluar yakni:
Keluar dari (pengakuan) dirimu sendiri. Dan engkau sudah keluar dari dirimu sendiri. Sehingga tidak ada lagi yang ada pada dirimu. Dan engkau menyatakan bahwa, Yang ada hanyalah " AKU "
Karena itu, engkau telah sampai pada-Ku."

Nah jadi, bagi seseorang yang hendak menempuh perjalanan menuju kehadhirat Allah Ta'ala maka,
ia mesti harus melalui beberapa tahapan dan tingkatan itu.
Yang mana nanti akhir tahapannya itulah :
" DIAM "

Sebenarnya diam itu adalah satu maqam Qadim Allah Ta'ala. Sebagaimana yang dinyatakan oleh para arifin yang sudah billah dengan rahasia singgasana Tuhan, dalam sebuah kitab " Ad-durun nafis " dalam ungkapannya :

"Diam itu adalah Maqam yang tertinggi yaitu Maqam Rabbul 'Izzati pada singgasana-Nya "

Didalam kediaman itu sesungguhnya adanya hakikat Muhammad yang bermaqam. Dan dari situlah sumbernya kalam rahasia Ilahiyah yang berbunyi :
" Kun fayakun "

Nah, jadi para Ikhwan dan Akhwati,

Setiap para kekasih-kekasih Allah itu, mereka itu telah sampai pada maqam diam yaitu,
Satu maqam yang mengangkat derajat dan martabat Insan yaitu, Insanul Kamil Mukamil yang berkedudukan tinggi.

Mereka itu, tidak pernah sedetikpun hatinya melupakan Allah, terus basah lidahnya mengingat Allah Ta'ala. baik dalam kesendirian, maupun dalam keramaian.

Jadi, untuk sampai suatu maqam mulia ini, yang harus Anda tempuh ada lima tahapan mulia yaitu,

Pertama :
Fana' fil mursyid (Lenyap dalam keta'an Anda dan cinta Anda kepada mursyid).

Kedua :
Fana' fir Rasul (Lenyap dalam keta'atan Anda dan kecintaan Anda kepada Rasulullah SAW).

Ketiga :
Fana' fillah (Lenyap dalam keta'atan Anda dan kecintaan Anda hanya Kepada Allah semata).

Empat :
Baqa' billah (Terbuka hijab kedirian Anda. Sehingga rahasia diri Anda bersatu dengan kebenaran Allah Ta'ala).

Kelima :
Liqa' illah (Berjumpa dengan Rabbu 'izzati didalam kediaman-Nya).

Nah para Ikhwan dan juga Akhwati,

Semoga kutipan kami ini, dapat Anda pelajari dengan sebaik-baiknya, agar Anda benar-benar akan menyadari diri sendiri bahwa :
Diri ini sangat perlu difahami dan disadari. Karena itu adalah tujuan yang mulia dalam mencapai manusia yang arif.
Insya Allah...

Aamiin...

Akhir kalam kami :

~ WASSALAAMU ~

Baginda SAW. Dapat Melihat Diwaktu Gelap

Teknologi Night Vision salah satu alat teknologi militer yang kini sudah bisa digunakan oleh umu / Photo Ilustrasi by Net

Didalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Sayyidina Anas Bin Malik, bahwa Baginda Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :

إني لأراكم من ورائي كما أركم


"Aku dapat melihat kalian dibelakangku sebagaimana aku dapat melihat kalian (didepan aku)". [HR. Bukhari no. 419]

Ini adalah salah satu mukjizat Baginda Rasulillah SAW yang diyakini adanya oleh Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. [Al-Asqolani, Fathul Bari, juz 1 hal. 666].

Bahkan lebih dari itu, Beliau SAW dapat melihat diwaktu gelap.

وحكى بقي بن مخلد أنه صلى الله عليه وسلم كان يبصر فى الظلمة كما يبصر فى الضوء


Bercerita Al Imam Baqi Bin Makhlad RA bahwa Baginda Rasulillah SAW dapat melihat diwaktu gelap sebagaimana melihat diwaktu terang. [Al-Asqolani, Fathul Bari, juz 1 hal. 667 cet. Dar Assalam, Riyad Tahun 2000] ☘

يا رب يا سامع دعانا يا رب بلغنا نزوره


Ya Allah berilah kami kesempatan untuk selalu berziarah kepada Baginda Rasulillah SAW.

Semoga Bermanfaat

Rabu, 08 Mei 2019

Kuat Sekali Tahajudnya

Tahajud / Ilustrasi by Net
Alkisah ada ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yg kuat sekali tahajudnya. Hampir ber-tahun2 dia tdk pernah absen melakukan sholat tahajud.

Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu utk tahajud, Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yg duduk di bibir sumurnya. Abu bertanya, 

“Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?”

Sambil tersenyum, sosok itu berkata; 

“Aku Malaikat utusan Allah”. 

Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia. 

Dia lalu bertanya, 

“Apa yg sedang kamu lakukan di sini?” 

Malaikat itu menjawab, 

“Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.” 

Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya; 

“Wahai Malaikat, buku apakah yang kau bawa?” 

Malaikat menjawab; 

“Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.” 

Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati namanya ada di situ. 

Maka ditanyalah Malaikat itu. 

“Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?” 

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya yang tidak kenal putusnya. 

Selalu mengerjakan shalat tahajud setiap malam, berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam. 

“Baiklah, aku buka,” 

Kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. 

Dan, ternyata Malaikat itu tidak menemukn nama Abu di dalamnya. Tdk percaya, Abu bin Hasyim meminta Malaikat mencarinya sekali lagi.

“Betul … Namamu tdk ada di dalam buku ini!” kata Malaikat. 

Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat. Dia menangis se-jadi-jadinya.

“Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dlm tahajud dan bermunajat,,, Tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah,” ratapnya. 

Melihat itu, Malaikat berkata, 

“Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tdk tahu engkau bangun setiap malam ketika yg lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang lain terlelap dlm buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”

“Apakah gerangan yg menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim. 

“Engkau memang bermunajat kpd Allâh, tapi engkau pamerkan dgn rasa bangga ke- mana2 dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan kirimu ada org sakit atau lapar, tdk engkau tengok dan beri makan. Bgmn mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau sendiri tdk pernah mencintai hamba2 yg diciptakan Allâh ?” Kata Malaikat itu. 

Abu bin Hasyim seperti​ disambar petir di siang bolong. Dia tersadar hubungan ibadah manusia tdklah hanya kpd Allâh semata (hablumminAllâh), tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam.

JANGAN BANGGA DENGAN BANYAK SHALAT, PUASA, DAN ZIKIR KARENA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH SENANG !!!

MAU TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH SENANG? 

Nabi Musa bertanya,

"Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?"

Allah SWT Berfirman,

"SHALAT? Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan mengerjakan shalat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar. 

DZIKIR? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang. 

PUASA? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri."

Nabi Musa bertanya lagi,

"Lalu apa yang membuat Mu senang Ya Allah?"

Allah SWT Berfirman,

"SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIK-mu.  Itulah yang membuat AKU senang, karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir di sampingnya. Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali." (Al-Baqarah 261-262)

Nah, bila kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu... Maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah. Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain...
Maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang karenanya. Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidupmu lapang dan bahagia.

(Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali)

Peresmian Jalan Eyang Kiyai Hasan Maolani

Bumi Panungtung Mengucapkan: selamat dan sukses atas peresmian  Nama Jalan Lingkar Timur Utara Tugu Ikan Sampora - Tugu Sajati Ancaran, sepa...