Cari Blog Ini

Follow Me

Kamis, 15 September 2016

Sejarah Sholawat Badar

Sejarah Sholawat Badar

صَـلا َةُ اللهِ  سَـلا َمُ اللهِ
  عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ  سَـلا َمُ اللهِ
عَـل َىيـس حَبِيْـبِ اللهِ

تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ
وَبِالْـهَادِى  رَسُـوْلِ الله
ِوَ كُــلِّ  مُجَـا هِـدِ لِلّهِ
بِاَهْـلِ  الْبَـدْ رِيـَا اَللهُ

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا  ُمـَّة
مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَة
َوَمِنْ هَـمٍ  وَمِنْ غُـمَّـةٍ
بِاَ هْـلِ  الْبَـدْ   رِيـَا  اَلله

ُ
اِلهِى  نَجِّـنَا  وَاكْـشِـفْ
جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ
  بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله

ُاِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا
مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا
بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ 

فَكَــمْ  مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ  
وَكَــمْ  مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـت 
بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله

ُوَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ  ذَالْعُـمْرِ
وَكَـمْ اَوْلَيْـتَذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ
جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ  مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ
بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ
وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله

ُفَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ
بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَة
ْاَيـَا ذَاالْعِـزِّ  وَالْهَـيـْبَةْ
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله

ُوَ اِنْ  تَرْدُدْ  فَـمَنْ نَأْتـِىْ
بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِىاَ
يـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله
ُاِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا
بِـنَيـْلِ  مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ  مَسَـاءَةٍ  عَـنَّا
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

اِلهِـى  اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ
وَذُوْ فَـضْل
ٍوَذُوْ عَطْـفٍو
َكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله

ُوَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ
بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـر
ِوَالِ  سَـادَةٍ  غُــــرِّ 
بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَلله

Kyai Ali Mansur adalah seorang kyai pencipta Sholawat Badar yang sangat terkenal dikalangan NU. Selain menjabat sebagai ketua pengurus NU Kabupaten Bayuwangi, ia juga menjabat sebagai kepala kantor Departemen Agama Banyuwangi.

Dilihat sisi nasab, Kyai Ali Mansur adalah seorang cucu dari KH. Muhammad Shiddiq Jember. Banyak orang yang tidak tahu bahwa Sholawat Badar adalah ciptaan Kyai Ali Mansur yang asli Indonesia.

Orang banyak menyangka bahwa Sholawat Badar adalah sholawat atau madah produk Arab. Padahal, sesungguhnya Sholawat Badar baru terkenal setelah 1960 karena memang baru digubah oleh Kyai Ali Mansur pada tahun 1960.

Riwayat terciptanya Sholawat Badar ini penuh degan misteri dan teka-teki. Dalam Antonologi NU, pada suatu malam, Kyai Ali Mansur tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena terus menerus memikirkan situasi politik yang semakin tidak menguntungkan NU. Orang-orang PKI semakin mendominasi kekuasaan di pedesaan. Sambil merenung, Kyai Ali Mansur terus memainkan penanya diatas kertas, menulis syair-syair dalam Bahasa Arab.

Dia memang dikenal mahir membuat syair sejak menjadi santri di Lirboyo Kediri. Kegelisahan Kyai Ali berbaur dengan rasa heran kerena malam sebelumnya dia bermimpi didatangi para Habaib berjubah putih-hijau. Semakin heran lagi karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu dengan Rosululloh.

Keesokan harinya, mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi. Itu adalah Ahli Badar, ya akhi, jawab Habib Hadi. Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dengan Sholawat Badar.

Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang kerumahnya sambil membawa beras, daging, dan barang-barang lain layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu. Mereka bercerita bahwa pada pagi-pagi buta, pintu rumah mereka didatangi orang berjubah yang memberitahu bahwa dirumah Kyai Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka, mereka membantu sesuai dengan kemampuannya.

Siapa orang berjubah putih itu???Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak Kyai Ali Mansur tanpa ada jawaban. Akan tetapi, malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu"tamu" itu siapa, dari mana datangnya, dan untuk apa keperluan apa.

Menjelang matahari terbit, serombongan Habib berjubah putih-putih hijau yang dipimpin Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta datang kerumah Kyai Ali Mansur. "ﺍﻟﺤـﻤﺪﺍﻟﻠﻪ " ucap Kyai Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah Habib yang sangat dihormati keluarganya.

Setelah berbincang agak lama, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik yang tidak menguntungkan, Habib Ali al-Habsyi menanyakn topik lain yang tidak diduga oleh Kyai Ali Mansur.

Ya akhi, mana syair yang ente buat kemarin??? Tolong ente bacakan dan lagukan dihadapan kami-kami," kata Habib Ali al-Habsyi. Tentu saja Kyai Ali Mansur terkejut, sebab ternyata Habib Ali al-Habsyi tahu apa yang dikerjakan Kyai Ali semalam.

Segera saja Kyai Ali mengambil kertas yang berisi catatan Sholawat Badar hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan mereka. Kebetulan Kyai Ali juga memiliki suara yang bagus.

Para Habaib mendengarkannya dengan khusyuk sambil meneteskan air mata karena terharu dengan bait-bait syair Sholawat Badar.

Al-Allamah sayyid Abdurrohman bin musthofa Al-Idrus ( tinggal di mesir ), menyatakan (dalam penjelasan Beliau tentang sholawatnya sayyid Ahmad Al-Badawi). Komentar ini di tulis dalam kitab yang berjudul Miraatu Al-Syumus fi manaqibi Aali Al-Idrus. bahwa di akhir zaman nanti, ketika sudah tidak di temukan seorang murobbi (Mursyid) yang memenuhi syarat, tidak ada satu pun amalan yang bisa mengantarkan seseorang wushul (ma’rifat) kepada Allah kecuali bacaan Sholawat kepada Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam, baik dalam keadaan tidur maupun terjaga.Kemudian setiap amalan itu mungkin di terima dan mungkin juga di tolak kecuali bacaan sholawat kepada Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam yang pasti di terima, karena memuliakan kepada Nabi.

Sayyid Abdur Rohman meriwayatkan keterangan tersebut berdasarkan kesepakatan ulama’.

Ketahuilah sesungguhnya para ulama’ telah sepakat atas diwajibkannya membaca “Sholawat dan Salam” untuk Baginda Nabi Shollallohu 'Alaihi Wasallam. Secara umum, membaca sholawat kepada nabi, merupakan hal yang agung dan keutamaannya pun sangat banyak. Membaca sholawat, merupakan bentuk ibadah, yang paling utama dan paling besar pahalanya. Sampai-sampai sebagian kaum “arifin”, mengatakan :“sungguhnya sholawat itu, bisa mengantarkan pengamalnya untuk ma’rifat kepada Allah, meskipun tanpa guru spiritual ( mursyid )” . Karena guru dan sanadnya, langsung melalui Nabi.

INGAT !!! setiap sholawat yang dibaca seseorang selalu diperlihatkan kepada beliau dan beliau membalasnya dengan do’a yang serupa ( artinya nabi tahu siapa saja yang membaca sholawat kepada beliau dan nabi menjawab sholawat dengan do’a yang serupa kepada pembacanya tadi )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Give Your Comment

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.