Cari Blog Ini

Follow Me

Jumat, 16 September 2016

TASAWUF SEMAR

TASAWUF SEMAR

Wali Songo sukses meyebarkan Islam di nusantara dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun.

Padahal sejak abad ke-7 sampai ke-14, Islam yang dibawa oleh para pedagang & dai Fiqh, amat sangat sulit menembus kultur sosial masyarakat.

Kunci sukses Wali Songo adalah :
Dengan jalan tasawuf yang dibungkus akulturasi budaya, Wali Songo membangkitkan MEMORI masyarakat nusantara akan agama leluhurnya berabad-abad lalu....

Risalah Islam menjadi pengulangan memori akan agama tauhid di era agama KAPITAYAN, berabad-abad sebelum era Hindu Buddha....

Kapitayan, agama yang mengajarkan penghambaan kepada Zat yang "Suwung" , ADA tetapi tidak ada...

SEMAR dalam agama Kapitayan, diyakini sebagai penganjur awal kebajikan agama Kapitayan.

Di luar kisah tentang DISKUSI & KERJASAMA antara Syekh Subakir dengan Semar Ismaya, faktanya :

Wali Songo kerap menghadirkan sosok Semar untuk memanggil kembali ingatan "bawah sadar" masyarakat Jawa akan agama leluhurnya

Syekh Subakir sendiri adalah kakek dari Sunan Ampel, penghulu para wali.

Syekh Subakir datang ke Jawa atas perintah Sultan Muhammad I (Mehmed I) dari kekhalifahan Ottoman

Dan "pertemuan" Eyang Semar Ismoyo Jati dengan Syekh Subakir adalah pembuka jalan bagi dakwah generasi Wali Songo sesudahnya

Dalam akulturasi budaya, WAYANG  (terfokus) pada sosok Semar, menjadi sarana yang ampuh untuk membuka MEMORI bawah sadar rakyat nusantara, akan agama leluhurnya.

SEMAR

Dalam pewayangan diceritakan bahwa  SEMAR tinggal di Karang dempel, maksudnya Semar selalu tinggal dan menyirami hati setiap hati manusia yang gersang, gelisah, dan jauh dari Tuhan.

Dalam pewayangan dikatakan bahwa ia diperintahkan untuk menguasai alam sunyaruri (alam kosong) dan tidak diperkenankan menguasai manusia di alam dunia.

Maksudnya dari alam kosong adalah alam yang kosong dari cahaya Ilahi yang kemudian Semar diperintahkan untuk mengisi alam kosong tersebut dengan kebutuhan-kebutuhan rohani yang berguna bagi manusia.

Sosok Semar hadir untuk menegaskan mengenai arti pentingnya peran agama dalam kehidupan. Agama berperan menyadarkan manusia dan membawa mereka menuju cahaya.

Sosok Semar juga merupakan symbol al-Qur’an sebagai kalam Ilahi yang sangat penting, yang di dalamnya memiliki beberapa tujuan mendasar, yaitu:
(1). Membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik

(2). Menciptakan kemanusiaan yang adil dan beradab

(3). Menciptakan persatuan dan kesatuan alam, baik alam fisik dengan metafisik dan masih banyak lagi tujuan yang dibawa oleh sosok Semar dalam pentas pewayangan.

Semar setidaknya memiliki sifat a.l. :

wijaya
(bijaksana dalam berbakti kepada Negara),

mantriwira
( dengan senang hati berbakti kepada Negara)

wicaksana maya
(bijaksana dalam berbicara dan bertindak)

matangwan
(dikasihi dan dicintai rakyat)

satya bakti prabu
(setia kepada Negara dan raja),

wakniwak
(tidak berpura-pura)

suharwan pasaman
(sabar dan sareh, tidak gugup dalam hati)

dirut saha
(jujur, teliti, sungguh-sungguh dan setia)

Dan masih banyak sifat panakawan yang mengarah kepada konsep hidup ala sufi

--------------------
Dari berbagai sumber
- Atlas Wali Songo
- Tasawuf Semar

.
.
......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Give Your Comment

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.